Senyum Mengalahkan Matahari

Matahari pagi mulai mendatangi dedaunan ketika aku berhadapan dengan keajaiban duniawi, Iliana, dengan jilbab mint dan helm stikernya, mengacungkan tanda damai dua jari. 

Satu matanya menyipit silau, tapi senyumnya mengalahkan matahari. Dari balik helm hitam berat, aku tak bisa menahan senyum lebar. 

Swafoto di seberang kantor ini adalah artefak takdir yang paling berharga; kebahagiaan sejati tentang senyum tulus anak yang merasa aman di sisi bapaknya.