Sore telah meninggalkan kantor ini, tetapi kursi-kursi masih duduk dengan sabar, seolah-olah mereka lebih rajin daripada manusia. Aku memandang meja-meja yang rapi itu dan merasa lucu: begitu banyak pekerjaan pernah lahir di sini, tetapi kini yang tersisa hanya cahaya lampu dan sunyi.
Di balik jendela, atap-atap rumah berdiri seperti saksi yang tak pernah ikut rapat. Aku membayangkan orang-orang yang tadi duduk di kursinya, mengetik, mengeluh, tertawa sebentar, lalu pulang membawa sebagian kecil dari hari ini di dalam kepalanya.
Aku pun pulang, meninggalkan kursi kosong itu. Namun entah mengapa, aku merasa kantor ini tidak pernah benar-benar sepi; ia hanya sedang menunggu esok pagi, ketika manusia kembali datang membawa pekerjaan, kopi, dan mimpi-mimpi kecil yang belum sempat selesai.