Nana menyusun menara balok bersama Iliana, sementara aku memandangi mereka. Di antara warna-warna yang bertumpuk itu, rasanya kami sedang membangun sebuah rumah kecil yang hanya mengenal tawa dan tidak pernah mengenal perpisahan.
Iliana mengambil satu balok, Nana menahannya agar menara itu tidak roboh. Aku tersenyum melihat keduanya, sebab ada sesuatu yang begitu sederhana dalam cara seorang ibu menjaga permainan anaknya, seolah seluruh dunia memang seharusnya dijaga dengan cara yang sama.
Malam itu aku mengerti, rumah bukanlah tempat yang memiliki pintu dan jendela. Rumah adalah Nana, adalah Iliana, dan adalah aku yang diam-diam bersyukur karena untuk beberapa saat, waktu memilih berhenti di meja ini.