Tidak Ada Rindu di Braga

Malam itu aku berjalan beberapa langkah di belakangmu. Kau menggenggam tangan Iliana, dan pemandangan sederhana itu terasa lebih mustahil daripada mukjizat apa pun yang pernah kudengar. Empat puluh lima hari lebih telah mengajariku bahwa rumah bukanlah tempat kita kembali, melainkan dua tangan yang akhirnya saling menemukan setelah lama dipisahkan.

Aku tidak segera memanggilmu. Aku ingin menyimpan detik itu lebih lama, ketika punggungmu, langkah kecil Iliana, dan cahaya lampu jalan menjelma satu doa yang akhirnya dikabulkan. Rinduku kepadamu telah begitu lama hidup sendiri hingga hampir lupa bagaimana rasanya berubah menjadi kehadiran.

Lalu aku mendekat, dan malam seketika menjadi lebih hangat daripada musim mana pun. Di antara riuh kota, aku mengerti bahwa cinta tidak pernah benar-benar menunggu di ujung perjalanan. Ia berjalan bersama kita, sabar, hingga hari ketika aku akhirnya dapat menggenggam kembali tanganmu yang pulang.