Pada 2006, manusia belum sepenuhnya hidup di dalam layar. Telepon masih menjadi benda yang dibawa untuk berkomunikasi, bukan ruang tempat seluruh kehidupan berlangsung. Internet adalah sebuah pintu yang kita buka, lalu kita tutup kembali. Pada 2026, pintu itu tidak pernah ditutup. Internet telah berubah menjadi ruangan yang kita tinggali. Kita bekerja di dalamnya, berbelanja di dalamnya, bercinta di dalamnya, bertengkar di dalamnya, bahkan berusaha menemukan siapa diri kita di dalamnya. Perbedaan 2006 dan 2026 bukan terutama terletak pada teknologi yang semakin canggih, melainkan pada kenyataan bahwa teknologi telah kehilangan bentuknya sebagai alat. Ia telah menjadi lingkungan. Manusia tidak lagi menggunakan dunia digital. Manusia hidup sebagai bagian dari dunia digital.
Pada 2006, seseorang dapat merasa bosan tanpa merasa bersalah. Menunggu bus adalah kesempatan untuk melamun. Menunggu seseorang adalah kesempatan untuk memandang jalan. Bahkan kesepian memiliki ruangnya sendiri. Pada 2026, kebosanan dianggap sebagai kegagalan kecil yang harus segera diperbaiki. Ketika tidak ada kegiatan, tangan mencari telepon. Ketika tidak ada percakapan, layar menyediakan ribuan suara. Ketika pikiran mulai kosong, algoritma segera mengisinya. Akibatnya, manusia semakin jarang mengalami kekosongan, padahal kekosongan adalah tempat pikiran tumbuh. Kita mengira sedang mengusir kebosanan, padahal mungkin kita sedang kehilangan kemampuan untuk tinggal bersama diri sendiri.
Tahun 2006 adalah zaman ketika manusia lebih sering merasa kekurangan informasi. Tahun 2026 adalah zaman ketika manusia justru kelebihan informasi. Dahulu kita mencari sesuatu karena tidak mengetahuinya. Sekarang kita harus mencari ketenangan karena terlalu banyak yang kita ketahui. Berita datang sebelum kita memintanya. Pendapat muncul sebelum kita membutuhkannya. Foto kehidupan orang lain hadir sebelum kita sempat memikirkan kehidupan sendiri. Informasi tidak lagi sekadar menerangi dunia. Ia juga membuat dunia terus-menerus menyala. Dan manusia yang tidak pernah berada dalam kegelapan akhirnya lupa bagaimana caranya beristirahat.
Pada 2006, seseorang bekerja agar mendapatkan penghasilan. Pada 2026, seseorang semakin sering bekerja agar dapat terus bekerja. Produktivitas tidak lagi berhenti ketika jam kerja selesai. Ia masuk ke rumah melalui pesan, notifikasi, grup percakapan, rapat daring, surel, dan berbagai aplikasi. Bahkan istirahat dapat berubah menjadi proyek pengembangan diri. Kita berolahraga agar lebih produktif, membaca agar lebih kompetitif, tidur dengan aplikasi agar kualitas tidur dapat diukur, dan berlibur agar kembali bekerja dengan lebih efektif. Istirahat pun kehilangan sifatnya sebagai istirahat. Ia menjadi bagian dari mesin produktivitas.
Pada 2006, manusia masih mengenal batas yang cukup jelas antara kehidupan pribadi dan kehidupan publik. Pada 2026, batas itu semakin tipis. Kita memotret makanan sebelum memakannya. Kita mengumumkan perjalanan sebelum menikmatinya. Kita membagikan kesedihan sebelum sempat memahaminya. Bahkan kebahagiaan terasa belum lengkap sebelum memperoleh tanda persetujuan dari orang lain. Manusia tidak hanya menjalani kehidupan, tetapi juga memproduksi citra tentang kehidupannya. Kita menjadi pekerja bagi citra diri sendiri. Kita mengelola wajah digital kita seperti sebuah perusahaan kecil yang tidak pernah tutup.
Pada 2006, seseorang dapat mengatakan, “Aku tidak tahu,” dan kalimat itu tidak selalu dianggap sebagai kelemahan. Pada 2026, mesin dapat memberikan jawaban dalam hitungan detik. Tetapi semakin mudah jawaban diperoleh, semakin sulit manusia mengetahui pertanyaan apa yang sebenarnya penting. Kita memperoleh kemampuan menjawab sebelum memperoleh kemampuan memahami. Pengetahuan menjadi cepat, tetapi kebijaksanaan tidak pernah memiliki tombol percepatan. Mesin dapat mengurangi waktu yang diperlukan untuk mendapatkan informasi, tetapi ia tidak dapat menentukan apa yang layak kita cintai, apa yang harus kita tinggalkan, dan untuk apa kehidupan ini dijalani.
Karena itu, jarak antara 2006 dan 2026 bukan sekadar jarak dua puluh tahun. Ia adalah jarak antara manusia yang menggunakan teknologi dan manusia yang mulai dibentuk oleh teknologi. Pada 2006, kita mungkin takut teknologi akan mengambil pekerjaan manusia. Pada 2026, persoalannya lebih dalam: teknologi mulai memengaruhi cara manusia menginginkan sesuatu, memperhatikan sesuatu, mencintai sesuatu, bahkan memandang dirinya sendiri. Ancaman terbesar bukan bahwa mesin menjadi terlalu mirip manusia. Bisa jadi justru manusia menjadi terlalu mirip mesin: selalu aktif, selalu tersedia, selalu merespons, selalu mengukur, selalu meningkatkan diri, tetapi semakin sulit menjawab pertanyaan sederhana yang dahulu begitu manusiawi: apakah aku benar-benar bahagia?