Aku dan Iliana berdiri di bawah langit yang terang, sama-sama memakai helm, sama-sama tersenyum, seolah-olah dunia baru saja memberi kami izin untuk menjadi dua anak kecil. Bedanya, ia masih benar-benar anak kecil, sementara aku hanya sedang meminjam kembali masa kecilku melalui tawanya.
Aku melihat wajahnya dan tiba-tiba perjalanan sederhana terasa istimewa. Bukan karena tempat yang kami tuju, bukan pula karena kendaraan yang kami naiki. Barangkali karena suatu hari nanti ia akan tumbuh besar, helm kecil itu akan kekecilan, dan tangannya tak lagi menggenggamku seperti sekarang.
Maka hari ini kusimpan baik-baik dalam ingatan. Senyum anakku, helm yang sedikit kebesaran, dan wajahku yang ikut bahagia di sampingnya. Sebab menjadi seorang ayah ternyata adalah perjalanan yang aneh: kita sibuk mengantar anak menuju masa depannya, sementara diam-diam setiap langkahnya membawa kita kembali pada kenangan yang paling kita sayangi.