Hari itu aku melihat Iliana duduk dengan keseriusan seorang ilmuwan yang sedang menemukan rahasia alam semesta. Di hadapannya hanya selembar kertas dan sebuah spidol warna kuning, tetapi bagi seorang anak, dua benda itu bisa menjadi pintu menuju dunia yang tak terbatas. Ia menunduk, tekun sekali, seolah masa depan sedang menunggu di ujung pensilnya.
Aku memperhatikannya diam-diam. Tangannya kecil, tetapi cara ia menggenggam spidol itu membuatku merasa sedang melihat seseorang yang kelak akan menggenggam sesuatu yang jauh lebih besar: cita-cita, keberanian, mungkin juga tanggung jawab. Sebagai bapak, aku ingin sekali berkata bahwa dunia tidak selalu mudah, tetapi kutahan kata-kata itu. Biarlah hari ini ia cukup sibuk menggambar dunianya sendiri.
Namanya Iliana. Dan mungkin kelak ia lupa pada gambar yang dibuatnya hari itu, lupa pada meja tempat ia duduk, bahkan lupa pada spidol kuning yang hampir habis. Tetapi aku tidak akan lupa. Sebab ada masa ketika seorang anak belum tahu betapa luasnya dunia, sementara seorang bapak diam-diam tahu bahwa dunia itu kelak akan menjadi miliknya untuk dijelajahi.