Di Konoha, pemerintah adalah sebuah gedung besar dengan papan nama yang mengilap. Catnya baru, kacanya bening, dan di halaman depannya tumbuh pohon-pohon yang rajin dipangkas agar tampak sejahtera. Hanya saja, entah mengapa, kesejahteraan itu selalu berhenti di halaman.
Di dalam gedung, orang-orang berseragam sibuk membuat rapat tentang rapat. Mereka membicarakan rakyat dengan bahasa yang sangat ilmiah, seolah-olah rakyat adalah spesies langka yang hanya bisa dipahami melalui tabel, grafik, dan presentasi.
“Keadaan Konoha sudah membaik,” kata seorang pejabat suatu pagi.
Di luar pagar, seorang ibu sedang menghitung uang receh untuk membeli beras.
Ia tidak tahu keadaan sudah membaik.
Mungkin kabar baik itu tersesat di jalan.
Di Konoha, jalan juga sering tersesat. Proyek jalan raya diumumkan dengan spanduk sebesar layar bioskop. Ada gambar pejabat tersenyum, ada tulisan tentang kemajuan, ada angka-angka fantastis. Beberapa bulan kemudian jalan itu berlubang. Hujan turun sedikit saja, lubangnya berubah menjadi kolam.
Anak-anak senang.
Mereka bermain perahu kertas di sana.
Pemerintah menyebutnya genangan.
Rakyat menyebutnya kenyataan.
Begitulah cara pemerintahan buruk bekerja: ia tidak selalu menciptakan kebohongan besar. Kadang ia hanya mengubah nama penderitaan agar terdengar administratif.
Kemiskinan menjadi “tantangan ekonomi”.
Pengangguran menjadi “transisi tenaga kerja”.
Korupsi menjadi “pelanggaran prosedur”.
Dan rakyat yang mengeluh disebut tidak bersyukur.
Barangkali para pejabat Konoha lupa bahwa Konoha bukan gedungnya. Konoha bukan mobil dinasnya. Bukan pula upacara dengan bendera berkibar dan pidato yang panjang.
Konoha adalah ibu yang membuka dompetnya dan menemukan isinya tinggal dua lembar uang.
Konoha adalah guru yang mengajar dengan sepatu berlubang.
Konoha adalah petani yang menatap sawahnya sambil bertanya-tanya mengapa hasil panennya murah ketika sampai di tangannya, tetapi menjadi mahal ketika kembali kepadanya sebagai nasi.
Konoha adalah anak kecil yang bercita-cita menjadi dokter, tetapi terlebih dahulu harus belajar bagaimana bertahan hidup.
Maka, jika suatu hari seorang pejabat berdiri di podium dan berkata bahwa rakyat Konoha harus bersabar, mungkin rakyat akan tersenyum.
Bukan karena mereka setuju.
Melainkan karena mereka sudah terlalu lama bersabar sampai-sampai kesabaran itu menjadi semacam penyakit keturunan.
Dan Konoha tidak boleh dipimpin oleh orang-orang yang menganggap kesabaran rakyat sebagai sumber daya alam yang tak akan pernah habis.
Sebab rakyat mungkin miskin, mungkin lelah, mungkin berkali-kali kecewa.
Tetapi jangan sekali-kali mengira mereka bodoh.
Mereka tahu siapa yang bekerja.
Mereka tahu siapa yang berpura-pura bekerja.
Dan pada akhirnya, sejarah punya kebiasaan yang buruk bagi para penguasa: ia mencatat semuanya.
Di dalam gedung, orang-orang berseragam sibuk membuat rapat tentang rapat. Mereka membicarakan rakyat dengan bahasa yang sangat ilmiah, seolah-olah rakyat adalah spesies langka yang hanya bisa dipahami melalui tabel, grafik, dan presentasi.
“Keadaan Konoha sudah membaik,” kata seorang pejabat suatu pagi.
Di luar pagar, seorang ibu sedang menghitung uang receh untuk membeli beras.
Ia tidak tahu keadaan sudah membaik.
Mungkin kabar baik itu tersesat di jalan.
Di Konoha, jalan juga sering tersesat. Proyek jalan raya diumumkan dengan spanduk sebesar layar bioskop. Ada gambar pejabat tersenyum, ada tulisan tentang kemajuan, ada angka-angka fantastis. Beberapa bulan kemudian jalan itu berlubang. Hujan turun sedikit saja, lubangnya berubah menjadi kolam.
Anak-anak senang.
Mereka bermain perahu kertas di sana.
Pemerintah menyebutnya genangan.
Rakyat menyebutnya kenyataan.
Begitulah cara pemerintahan buruk bekerja: ia tidak selalu menciptakan kebohongan besar. Kadang ia hanya mengubah nama penderitaan agar terdengar administratif.
Kemiskinan menjadi “tantangan ekonomi”.
Pengangguran menjadi “transisi tenaga kerja”.
Korupsi menjadi “pelanggaran prosedur”.
Dan rakyat yang mengeluh disebut tidak bersyukur.
Barangkali para pejabat Konoha lupa bahwa Konoha bukan gedungnya. Konoha bukan mobil dinasnya. Bukan pula upacara dengan bendera berkibar dan pidato yang panjang.
Konoha adalah ibu yang membuka dompetnya dan menemukan isinya tinggal dua lembar uang.
Konoha adalah guru yang mengajar dengan sepatu berlubang.
Konoha adalah petani yang menatap sawahnya sambil bertanya-tanya mengapa hasil panennya murah ketika sampai di tangannya, tetapi menjadi mahal ketika kembali kepadanya sebagai nasi.
Konoha adalah anak kecil yang bercita-cita menjadi dokter, tetapi terlebih dahulu harus belajar bagaimana bertahan hidup.
Maka, jika suatu hari seorang pejabat berdiri di podium dan berkata bahwa rakyat Konoha harus bersabar, mungkin rakyat akan tersenyum.
Bukan karena mereka setuju.
Melainkan karena mereka sudah terlalu lama bersabar sampai-sampai kesabaran itu menjadi semacam penyakit keturunan.
Dan Konoha tidak boleh dipimpin oleh orang-orang yang menganggap kesabaran rakyat sebagai sumber daya alam yang tak akan pernah habis.
Sebab rakyat mungkin miskin, mungkin lelah, mungkin berkali-kali kecewa.
Tetapi jangan sekali-kali mengira mereka bodoh.
Mereka tahu siapa yang bekerja.
Mereka tahu siapa yang berpura-pura bekerja.
Dan pada akhirnya, sejarah punya kebiasaan yang buruk bagi para penguasa: ia mencatat semuanya.