Es Puter Pak Sis

Siang itu Iliana duduk manis di kursi merah tua. Sebuah es puter cokelat dipegangnya erat penuh suka cita. Senyum kecilnya mengembang, dunia serasa milik dia sendiri.

Baju merah muda bergambar hati menutupi tubuh mungil anakku. Rambutnya tergerai lembut, disapu angin siang yang berdebu. Di belakangnya pintu hijau menyimpan cerita toko lama.

Aku memandangi anakku, hatiku hangat penuh syukur sederhana. Segelas es kecil itu mampu membuatnya bahagia tanpa syarat. Kelak kutahu, kebahagiaan anak-anak selalu sesederhana semangkuk es puter.