Hijau Pohon

Aku mendongak. Di atas kepalaku, daun-daun saling berdesakan seperti orang-orang yang menyimpan terlalu banyak cerita tetapi tak tahu kepada siapa harus mengatakannya. Cahaya matahari jatuh melalui celah-celah kecil di antara mereka, pecah menjadi serpihan-serpihan terang di wajahku.

Pohon itu barangkali tidak pernah tahu namaku. Ia tidak peduli siapa yang berkuasa, siapa yang kalah, siapa yang menulis sejarah dan siapa yang dihapus dari dalamnya. Ia hanya tumbuh. Tahun demi tahun. Musim demi musim. Membesarkan cabang-cabangnya sambil diam-diam menyaksikan manusia datang dengan segala ambisinya, kemudian pergi membawa tubuh yang semakin tua.

Aku tiba-tiba berpikir, mungkin kebudayaan juga seperti pohon. Orang-orang boleh menebang cabangnya, mengganti namanya, bahkan mencoba mencabutnya dari tanah. Tetapi selama masih ada akar yang mengingat dari mana ia tumbuh, selalu ada kemungkinan bahwa suatu hari daun-daun baru akan muncul kembali.