Senja itu Mas Mega duduk sendiri menahan duka mendalam. Matanya menerawang jauh, ia menatap ponsel yang digenggam erat. Kursi kuning menopang tubuhnya yang terasa berat oleh kehilangan.
Aku duduk di sampingnya, tak tahu harus berkata apa. Tak ada kata mampu mengobati luka yang menganga itu. Aku hanya bisa hadir, menemani duka tanpa banyak bicara.
Kadang menghibur bukan soal kata, melainkan soal kehadiran diri. Aku belajar bahwa diam pun bisa menjadi bentuk kasih. Kutemani Mas Mega, berharap waktu perlahan meredakan segala pedih.