Kenapa Kita Takut Tidak Melakukan Apa-Apa?

Kita hidup dalam masyarakat yang telah kehilangan kemampuan untuk beristirahat.

Bukan karena kita tidak memiliki waktu, melainkan karena kita telah lupa apa arti waktu ketika ia tidak menghasilkan apa-apa. Bahkan istirahat pun harus mempunyai tujuan: tidur agar besok lebih produktif, berlibur agar kembali bekerja dengan tenaga baru, berjalan-jalan agar pikiran kembali segar. Istirahat telah dijadikan pelayan produktivitas.

Kita tidak lagi beristirahat untuk berhenti. Kita beristirahat agar dapat melanjutkan.

Di dalam masyarakat seperti ini, kelelahan bukan lagi tanda bahwa kita telah bekerja terlalu banyak. Kelelahan justru menjadi bukti bahwa kita sedang menjalani hidup dengan benar. Kita bangga mengatakan bahwa kita sibuk, seolah-olah kesibukan adalah bentuk baru dari kebermaknaan.

Karena itu, orang yang berhenti sering merasa bersalah.

Ketika tubuh diam, pikiran segera mencari pekerjaan. Ketika tidak ada pesan masuk, kita membuka layar. Ketika tidak ada yang harus dilakukan, kita menciptakan sesuatu untuk dilakukan. Keheningan menjadi sesuatu yang harus diisi. Kekosongan menjadi sesuatu yang harus ditaklukkan.

Padahal istirahat bukan sekadar berhenti bekerja.

Istirahat adalah pembebasan sementara dari kewajiban untuk menjadi berguna.

Di dalam istirahat, kita tidak perlu mencapai apa-apa. Kita tidak perlu memperbaiki diri, meningkatkan kemampuan, membangun jaringan, atau mengubah waktu menjadi investasi. Kita hanya ada.

Justru karena itu, istirahat menjadi tindakan yang hampir radikal.

Sebab masyarakat yang menjadikan manusia sebagai proyek tanpa akhir akan selalu meminta kita untuk bergerak. Kita harus berkembang, belajar, memperbaiki, memperbarui, mengoptimalkan. Bahkan diri sendiri telah berubah menjadi sebuah perusahaan kecil yang terus-menerus diawasi oleh pemiliknya: kita.

Istirahat menghentikan pengawasan itu.

Untuk sesaat, kita tidak bertanya: apa yang sudah saya capai hari ini?

Kita hanya bertanya: bagaimana rasanya berada di sini?

Mungkin di situlah istirahat menemukan maknanya yang sebenarnya. Ia bukan waktu yang kosong dari kehidupan. Ia adalah ruang tempat kehidupan kembali muncul sebelum ditundukkan oleh tujuan.

Pohon tidak tumbuh karena terus-menerus memerintah dirinya untuk tumbuh. Laut tidak menjadi laut karena mengejar target. Malam tidak merasa gagal karena tidak menghasilkan siang.

Hanya manusia modern yang begitu takut terhadap diam.

Kita perlu belajar kembali bahwa tidak semua waktu harus dimanfaatkan. Ada waktu yang cukup dijalani. Ada keheningan yang tidak perlu dijelaskan. Ada sore yang tidak perlu menghasilkan apa pun.

Barangkali hidup yang baik bukan hidup yang mampu melakukan lebih banyak, melainkan hidup yang sesekali sanggup melepaskan kebutuhan untuk melakukan.

Istirahat adalah ketika kita berhenti menjadi proyek.

Dan untuk beberapa saat, cukup menjadi manusia.