Koito

Siang itu langit begitu biru, seolah baru dicuci oleh malaikat yang teliti. Nana bersandar pada balok kayu tua yang berlubang-lubang dimakan zaman, matanya terpejam, pipinya bertumpu di telapak tangan. Ia tersenyum seperti orang yang sedang menerima kabar baik dari jauh, padahal yang ia dengar hanyalah gemericik air dan bisik angin di sela daun kamboja.

Di sisinya, Iliana berdiri di tepi kolam dengan sekuntum kamboja putih di genggaman. Sebelah tangannya menempel di telinga, khidmat sekali, bagai diplomat yang sedang menerima telegram rahasia dari ikan-ikan koi. Ikan-ikan itu, jingga dan putih dan gemuk seperti saudagar yang semua cicilannya sudah lunas, berenang tenang, tak sadar sedang dimintai keterangan oleh seorang perempuan kecil.

Di kejauhan, papan penunjuk bertuliskan kasir menuding dengan garang, seolah mengingatkan bahwa segala yang indah di dunia ini akhirnya harus dibayar. Aku tersenyum, sebab kutahu ada dua hal yang takkan sanggup ditagih siapa pun: senyum seorang istri yang sedang melepas lelah, dan bisikan seorang anak pada sekuntum kamboja. Maka kutekan tombol kamera, dan kusimpan siang itu baik-baik di dalam dada, satu-satunya tempat penyimpanan yang tak pernah minta bayaran.