Aku memandangi kue itu seperti seorang arkeolog menemukan artefak penting, hanya saja artefakku berbentuk bulat dan beraroma mentega. Di atasnya ada tulisan yang entah bermakna apa, dibuat dari adonan yang kecokelatan, sementara pinggirannya bergerigi seperti mahkota seorang raja kecil. Aku tersenyum. Kadang-kadang kebahagiaan memang tidak datang membawa pidato panjang, melainkan diam-diam masuk ke kotak plastik berwarna emas.
Aku menggigit sedikit. Renyah di luar, lembut di dalam. Seketika aku teringat masa kecil, ketika sebungkus kue bisa menjadi alasan untuk pulang lebih cepat dan sebuah gigitan kecil terasa seperti pesta besar. Lucu benar hidup ini, dulu aku mengejar kebahagiaan ke mana-mana, sekarang ia justru bisa kutemukan di telapak tangan.
Kue itu akhirnya habis. Aku menatap kotaknya yang kosong dan merasa sedikit bersalah, seperti baru saja menghabiskan sebuah kenangan. Namun begitulah hidup: sesuatu yang manis selalu punya batas. Barangkali tugas kita bukan menyimpannya terlalu lama, melainkan menikmatinya sebelum ia menjadi remah-remah di dasar kotak.