Menunggu

Iliana duduk manis di atas unicorn merah mudanya, menunggu giliran dipanggil dokter. Di ruang tunggu itu, waktu seperti sengaja berjalan lebih lambat. Namun bagi Iliana, antrean bukanlah perkara besar. Ada unicorn, ada pegangan untuk digenggam, dan ada Bapak yang duduk tak jauh darinya. Dunia kecilnya baik-baik saja.

Aku memperhatikannya diam-diam. Wajahnya serius, seolah sedang mengendarai kendaraan menuju sebuah tujuan yang sangat penting. Sesekali aku ingin tertawa melihat tingkahnya, tetapi kemudian terbersit rasa haru. Anak sekecil itu belum mengerti mengapa ia harus menunggu dokter. Ia hanya tahu bahwa Bapak ada di sana, dan mungkin itulah yang membuat semuanya terasa aman.

Kelak, Iliana mungkin tak akan mengingat ruang tunggu ini, atau unicorn kecil yang pernah menjadi kendaraannya menuju ruang dokter. Tapi aku ingin mengingatnya. Sebab sebagai seorang bapak, ternyata kebahagiaan sering kali bukan tentang membawa anak pergi jauh. Kadang cukup duduk di sebelahnya, menunggu sebuah nomor dipanggil, sambil diam-diam bersyukur karena hari ini aku masih diberi kesempatan menemani perjalanan kecilnya.