Mojosemi

Aku berdiri di antara pohon-pohon tua itu, kecil sekali di hadapan batang-batang raksasa yang entah sudah berapa lama menyimpan rahasia bumi. Cahaya matahari jatuh di tanah seperti serpihan emas, sementara aku hanya diam dengan ransel di punggung, merasa seperti seorang pengembara yang belum tahu benar ke mana akan pergi. Untuk sesaat, hutan itu membuatku sadar bahwa hidup ternyata tak selalu membutuhkan peta.

Aku memandang jalan setapak di depanku. Tidak ada tanda yang menjelaskan ke mana ia berakhir, tidak ada siapa pun yang menyuruhku memilih kiri atau kanan. Mungkin begitulah perjalanan hidupku selama ini. Aku berjalan, sesekali tersesat, lalu pura-pura tahu arah sambil berharap semesta cukup baik untuk membiarkanku menemukan jalan pulang.

Di tempat itu aku akhirnya mengerti sesuatu: pohon-pohon besar tidak tumbuh dalam sehari, dan manusia pun barangkali demikian. Aku mungkin belum menjadi siapa-siapa, masih berdiri sendirian di bawah bayang-bayang kehidupan yang jauh lebih besar dariku. Tetapi hari itu aku tidak takut. Aku hanya berdiri, menarik napas panjang, lalu melangkah lagi.