Kami menunggu kereta lewat di dekat Pasar Nongko, Surakarta, di bawah matahari yang terasa seperti sedang menghukum kota karena dosa yang tak pernah kami ketahui. Aspal menguapkan panas, mesin-mesin kendaraan menggeram pelan, dan kami duduk di antara kendaraan yang berhenti, seolah seluruh kota sedang menahan napas untuk sesuatu yang akan datang dari balik rel.
Kami menunggu kereta, tetapi diam-diam kami menunggu hujan. Entah mengapa, siang itu langit begitu biru dan kejam, sementara awan putih menggantung jauh di atas kami seperti janji yang sengaja ditunda. Aku membayangkan hujan turun begitu deras sampai jalanan berubah menjadi sungai dan semua orang melupakan tujuan mereka, hanya untuk berdiri di bawah air dan membiarkan panas pergi bersama kenangan.
Ketika palang masih tertutup dan kereta belum juga terdengar, aku merasa waktu berhenti di Pasar Nongko. Kami hanya manusia-manusia kecil yang terjebak di bawah matahari besar, merindukan dua hal yang sederhana: kereta yang segera lewat dan hujan yang entah kapan pulang.