Serta Mulia


Di depan pintu tua yang seperti telah menyaksikan seribu subuh, seorang anak perempuan berdiri dengan poni yang jatuh nakal di keningnya. 

Namanya Iliana. Anakku. Hari itu ia genap empat tahun, dan di hadapannya berdiri sebuah kue putih-merah muda bertingkat, dikepung kuda-kuda poni pelangi yang tersenyum abadi dalam bentuk kertas dan gula. Di puncaknya tertulis, seolah dunia perlu diberi tahu secara resmi: Happy Birthday, Iliana.

Aku memotretnya dari seberang meja, dan dalam jarak yang tak sampai dua meter itu, aku merasa seperti orang yang berdiri di tepi sebuah samudra sambil memegang ember kecil, hendak mengukur berapa dalam air yang harus kutimba agar cukup untuk menjadi baik di peranku.

Begitulah rupanya menjadi bapak. Tak ada yang mengajariku secara khusus. Tak ada perguruan tinggi yang membuka jurusan "S1 Ilmu Bapak", tak ada ijazah yang bisa kupajang di dinding sebagai bukti bahwa aku layak memegang tanggung jawab sebesar ini. 

Aku hanya seorang laki - laki biasa yang suatu pagi terbangun dan mendapati dirinya dipanggil "Bapak" oleh makhluk mungil yang matanya bulat seperti biji delima, dan sejak saat itu aku tahu: aku harus belajar, sendirian, di kelas yang tak pernah usai.

Maka kubaca apa saja yang bisa kubaca. Kucari apa saja yang bisa memberiku sedikit cahaya di lorong gelap yang bernama tanggung jawab ini.

Kubaca tentang Abraham Lincoln, di sela-sela mengurus negeri yang terbelah oleh perang saudara, masih menyempatkan diri berguling-guling di lantai bersama anak-anaknya, membiarkan mereka menaiki punggungnya seperti menaiki kuda, sebab ia percaya seorang bapak yang berkuasa atas banyak hal tetap harus tunduk pada tawa anaknya sendiri. Dari sana aku belajar bahwa kelembutan bukan kelemahan, dan seorang bapak boleh saja besar di mata dunia, tapi ia harus tetap kecil dan lucu di mata anaknya.

Kubaca tentang Salahuddin Al-Ayyubi, panglima yang menaklukkan Yerusalem tapi tetap menjaga waktu untuk urusan rumahnya, yang memegang teguh amanah bukan hanya di medan perang tapi juga di ruang-ruang sunyi rumah tangga. Dari sana aku belajar bahwa kehormatan seorang laki - laki tidak diukur dari seberapa gagah ia di luar rumah, tapi dari seberapa lembut ia menutup pintu kamar anaknya di malam hari.

Kubaca tentang Anies Baswedan, yang bicara panjang lebar soal pendidikan sebagai jalan keadilan, dan aku pikir, kalau begitu, pendidikan pertama dan paling menentukan bukanlah di sekolah, melainkan di meja makan, di kursi mobil, di depan kue ulang tahun seperti ini, tempat seorang anak diam-diam belajar bagaimana caranya dicintai, dan kelak akan meniru cara itu untuk mencintai orang lain.

Kudengar podcast dan tulisan Pandji Pragiwaksono, yang bicara soal menjadi bapak dengan jujur, tanpa make up, mengakui bahwa ia pun sering gagap, sering keliru, tapi terus memilih hadir. Dari situ aku belajar bahwa kejujuran seorang bapak pada dirinya sendiri, mengakui bahwa ia tidak sempurna, adalah awal dari segala perbaikan.

Dan aku menonton Chris Hemsworth, dewa petir di layar lebar itu, yang di luar kostum dan efek visualnya, ternyata hanyalah seorang bapak yang mengajak anak-anaknya berselancar di pagi hari, tertawa lepas, membiarkan pasir menempel di rambut mereka. Dari situ aku belajar bahwa kekuatan sejati seorang bapak bukan pada otot yang dilatih, melainkan pada waktu yang direlakan.

Begitulah aku, seperti murid yang memungut serpihan ilmu dari mana-mana, dari seorang presiden, seorang panglima perang, seorang menteri, seorang komedian, dan seorang aktor, meramu semuanya menjadi satu ramuan yang kuharap cukup, dan tentu saja tidak pernah cukup, untuk membesarkan satu anak perempuan bernama Iliana.

Aku tahu aku bukan bapak yang sempurna. Kadang aku lelah dan suaraku meninggi tanpa sebab yang pantas. Kadang aku sibuk dengan duniaku sendiri, sementara ia memanggil-manggil namaku dari ruang sebelah. 

Tapi setiap kali aku memandang wajahnya, wajah yang hari itu tersenyum kecil di depan kamera, malu-malu tapi bahagia, dikelilingi kuda-kuda pony kesukaannya, aku selalu diingatkan pada satu hal sederhana: aku tidak perlu menjadi bapak yang sempurna. Aku hanya perlu menjadi bapak yang terus berusaha, yang terus belajar, yang tidak pernah berhenti menimba air itu meski embernya kecil dan samudranya luar biasa dalam.

Serta mulia, nduk Iliana. Di usiamu yang keempat ini, bapakmu masih seorang murid. Tapi murid ini berjanji, ia tidak akan pernah bolos dari kelas yang bernama cinta kepadamu.