Ada buku yang setelah selesai dibaca membuat kita tahu ceritanya. Ada pula buku yang membuat kita curiga bahwa sebenarnya buku itu sedang membaca kita. The Grapes of Wrath karya John Steinbeck termasuk jenis yang kedua. Kita membaca kisah keluarga Joad, tetapi diam-diam merasa sedang membaca sesuatu yang terjadi di sekitar kita. Bukan tentang traktor yang merobohkan rumah, bukan tentang keluarga yang menyeberangi Amerika dengan truk reyot, melainkan tentang manusia yang berusaha bertahan ketika keadaan menjadi lebih besar daripada kemampuan dirinya. Bedanya, kalau keluarga Joad punya truk tua yang mogok di tengah jalan, kita di kantor mungkin punya komputer yang tiba-tiba tidak bisa menyala lima menit sebelum rapat. Sama-sama membuat jantung bekerja lembur.
Keluarga Joad adalah keluarga petani yang kehilangan tanahnya ketika ekonomi berubah, bank menagih, dan mesin mulai menggantikan tenaga manusia. Mereka pergi ke California setelah membaca kabar bahwa di sana tersedia banyak pekerjaan. Selebarannya begitu menjanjikan sampai-sampai harapan keluarga Joad tumbuh lebih cepat daripada tanaman di ladang. Mereka berangkat dengan keyakinan bahwa di ujung jalan ada pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik. Ternyata, begitu sampai di California, mereka menemukan kenyataan yang berbeda. Pekerjaan memang ada, tetapi pencari kerja jauh lebih banyak. Upah pun jatuh. Di sinilah Steinbeck memperlihatkan sebuah ironi yang tajam: kadang-kadang masalah bukan karena tidak ada pekerjaan, melainkan karena terlalu banyak orang yang harus berebut pekerjaan yang sama.
Kalau kita tarik ke kantor, ironi semacam itu sebenarnya tidak terlalu asing. Kadang pekerjaan yang tampak sederhana justru berkembang biak seperti kecoa ketika lampu dimatikan. Satu tugas masuk, lalu muncul tugas tambahan. Tugas tambahan melahirkan permintaan data. Permintaan data melahirkan permintaan revisi. Revisi melahirkan rapat. Rapat melahirkan notula. Notula melahirkan tindak lanjut. Tindak lanjut melahirkan rapat berikutnya. Pada titik tertentu kita mulai bertanya-tanya, apakah kita sedang bekerja atau sedang memelihara sebuah ekosistem administrasi.
Namun justru di sinilah The Grapes of Wrath mengajarkan sesuatu yang penting. Tidak semua masalah mempunyai satu penjahat yang bisa kita tunjuk. Dalam novel itu, traktor yang merobohkan rumah Joad bukan makhluk jahat. Pengemudinya hanya bekerja. Bank menjalankan kepentingannya. Pemilik tanah mengejar keuntungan. Setiap orang melakukan bagian masing-masing, tetapi keseluruhan sistem menghasilkan penderitaan. Steinbeck seperti mengingatkan kita bahwa sebuah masalah kadang-kadang bukan lahir karena seseorang sengaja membuat masalah, tetapi karena terlalu banyak orang hanya melihat bagian kecil dari persoalan.
Di kantor, kita juga bisa terjebak dalam cara berpikir seperti itu. Ketika sebuah pekerjaan terlambat, kita segera mencari siapa yang belum bekerja. Padahal mungkin data belum tersedia. Data belum tersedia karena informasi belum lengkap. Informasi belum lengkap karena ada perubahan. Perubahan belum tersampaikan karena rapat belum dilakukan. Rapat belum dilakukan karena semua orang sedang sibuk. Semua orang sibuk karena terlalu banyak pekerjaan. Akhirnya kita menemukan sebuah lingkaran yang begitu sempurna sampai-sampai kalau dibuat diagram mungkin terlihat seperti roda sepeda.
Maka pertanyaan yang lebih berguna bukan selalu, “Siapa yang salah?” tetapi, “Bagian mana dari cara kerja kita yang perlu diperbaiki?” Pertanyaan kedua memang kurang memuaskan untuk melampiaskan kekesalan, tetapi jauh lebih berguna untuk menyelesaikan masalah. Menyalahkan orang mungkin membuat hati hangat selama lima menit. Memperbaiki sistem bisa membuat pekerjaan lebih ringan selama berbulan-bulan.
Di sinilah perjalanan Tom Joad menjadi menarik. Pada awal cerita, Tom adalah seseorang yang terutama memikirkan dirinya dan keluarganya. Ia pulang membawa masa lalu dan persoalannya sendiri. Namun dalam perjalanan, ia bertemu Jim Casy, bekas pendeta yang telah kehilangan keyakinan lamanya tetapi menemukan keyakinan baru tentang hubungan antarmanusia. Casy mulai memahami bahwa manusia bukan kumpulan individu yang berdiri sendiri seperti kentang dalam karung. Kita saling berhubungan. Penderitaan satu orang dapat menjadi urusan orang lain. Kebahagiaan seseorang pun dapat menular kepada orang di sekitarnya.
Kalau diterjemahkan ke bahasa kantor, Casy mungkin akan mengatakan begini: jangan menganggap meja sebelah sebagai negara asing.
Kita memang mempunyai meja masing-masing. Ada komputer masing-masing. Ada pekerjaan masing-masing. Bahkan mungkin ada gelas kopi masing-masing yang dijaga seperti pusaka keluarga. Tetapi pekerjaan kita tidak mengenal batas meja. Ketika pekerjaan seseorang selesai, pekerjaan orang lain bisa bergerak. Ketika pekerjaan seseorang tersendat, pekerjaan orang lain ikut tersendat. Kita seperti roda gigi dalam mesin besar. Tidak ada roda gigi yang bisa berteriak, “Saya hanya bertugas berputar. Kalau mesin tidak jalan, itu bukan urusan saya.” Mesin akan tetap diam, dan semua orang akan memandangi mesin itu sambil saling menatap.
Karena itu, salah satu pelajaran terpenting dari novel ini adalah bahwa kita tidak benar-benar bekerja sendirian.
Kadang kita merasa keberhasilan adalah milik kita karena nama kita tercantum dalam surat, laporan, atau hasil pekerjaan. Padahal hampir selalu ada banyak tangan yang ikut bekerja di belakangnya. Ada orang yang memberikan data. Ada yang memeriksa. Ada yang mengoreksi. Ada yang memberi masukan. Ada yang mengingatkan tenggat. Ada yang memperbaiki kesalahan kecil yang kita bahkan tidak sadari. Ada pula orang yang pekerjaannya begitu senyap sehingga keberadaannya baru kita sadari ketika ia tidak masuk kantor.
Orang seperti itu adalah semacam baut pada mesin. Selama terpasang, tidak ada yang membicarakannya. Begitu lepas, semua orang mendadak menjadi ahli teknik.
Karena itu, membantu rekan kerja sebenarnya bukan tindakan heroik. Sering kali bantuan paling berarti justru sangat sederhana. Menjelaskan prosedur. Membagikan informasi. Mengecek dokumen. Menjawab pertanyaan. Menggantikan pekerjaan ketika seseorang berhalangan. Atau sekadar berkata, “Sudah, bagian ini saya bantu.”
Kalimat terakhir itu sederhana, tetapi di kantor bisa terasa seperti hujan pertama setelah kemarau panjang.
Sebab kita semua pernah berada pada posisi membutuhkan bantuan.
Ada hari ketika pekerjaan kita berjalan lancar. Otak terasa cemerlang. Jari mengetik seperti pianis konser. Bahkan email masuk pun terasa seperti musik. Tetapi ada juga hari ketika satu kalimat harus dibaca empat kali dan tetap terasa seperti ditulis dalam bahasa Klingon. Pada hari seperti itu, bantuan seorang rekan bisa menjadi perbedaan antara pekerjaan selesai dengan baik atau kita menatap layar sampai sore sambil mempertanyakan pilihan hidup.
Keluarga Joad memahami hal itu dengan cara yang jauh lebih keras. Mereka berbagi makanan ketika makanan sedikit. Mereka berbagi tempat ketika tempat sempit. Mereka membawa orang lain masuk ke dalam kelompok ketika sebenarnya mereka sendiri sudah kekurangan. Ada kehangatan yang aneh dalam keluarga itu. Mereka miskin, tetapi kemurahan hati mereka sering lebih kaya daripada orang-orang yang memiliki segalanya.
Pelajaran ini terasa relevan bagi kita. Kita sering mengira bahwa untuk membantu orang lain kita harus mempunyai banyak hal. Banyak waktu. Banyak tenaga. Banyak pengetahuan. Padahal tidak selalu begitu. Kita dapat membantu dengan sesuatu yang sangat sederhana: waktu sepuluh menit, satu informasi, satu penjelasan, satu kontak, satu ide, atau bahkan satu kalimat yang menenangkan.
Dalam kehidupan kantor, kadang-kadang yang dibutuhkan seseorang bukan solusi setebal buku, tetapi seseorang yang berkata, “Tenang, kita cari jalan keluarnya.”
Kata “kita” di situ kecil, tetapi daya angkatnya besar.
Sebab kata “aku” membuat beban terasa berada di satu punggung. Kata “kita” membuat beban itu mempunyai beberapa bahu.
Inilah perubahan besar yang dialami Tom Joad. Ia mulai memahami bahwa dirinya bukan lagi hanya Tom Joad, seorang lelaki dengan masalah pribadi dan keluarga. Ia menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Ia mulai melihat bahwa nasibnya terhubung dengan nasib orang lain.
Bagi kita, perubahan itu dapat dimulai dari hal yang sangat sederhana. Ketika pekerjaan sedang menumpuk, kita tidak hanya bertanya, “Bagaimana pekerjaan saya selesai?” tetapi juga, “Bagaimana pekerjaan kita selesai?”
Perbedaannya tampak kecil.
Dampaknya besar.
“Aku” bertanya, “Apakah ini tugas saya?”
“Kita” bertanya, “Siapa yang bisa kita bantu?”
“Aku” berkata, “Saya sudah selesai.”
“Kita” bertanya, “Apakah semuanya sudah selesai?”
“Aku” berkata, “Itu bukan bagian saya.”
“Kita” berkata, “Kalau begitu, siapa yang perlu kita hubungi agar persoalannya selesai?”
Dan tentu saja, menjadi “kita” bukan berarti kita harus mengerjakan semua pekerjaan orang lain. Kalau demikian, kita bukan lagi tim. Kita sudah berubah menjadi layanan ekspedisi manusia.
Kerja sama bukan berarti semua orang mengerjakan semuanya. Kerja sama berarti masing-masing mengerjakan bagiannya sambil memahami bahwa bagian itu berhubungan dengan bagian orang lain.
Ada bagian lain dari novel yang sangat menarik, yaitu kamp pemerintah tempat keluarga Joad menemukan sesuatu yang sudah lama hilang dari hidup mereka: martabat. Di sana mereka diperlakukan sebagai manusia. Mereka memiliki ruang untuk hidup, membuat aturan, menjaga kebersihan, dan mengurus kehidupan bersama.
Hal ini mengingatkan kita bahwa kantor bukan hanya tempat target dikejar. Kantor adalah tempat manusia menghabiskan sebagian besar waktunya. Karena itu, bagaimana kita memperlakukan orang lain menjadi sama pentingnya dengan apa yang kita kerjakan.
Kita dapat memiliki sistem yang sangat bagus, tetapi jika orang-orang di dalamnya saling merendahkan, sistem itu akan terasa seperti rumah mewah yang penghuninya bertengkar setiap pagi.
Sebaliknya, tempat kerja yang orang-orangnya saling menghargai dapat membuat pekerjaan berat terasa lebih mungkin diselesaikan.
Maka jangan remehkan budaya saling menghargai. Ucapan terima kasih, permintaan maaf, kesediaan mendengar, dan kemauan membantu mungkin tidak tercatat dalam aplikasi kinerja. Tetapi semuanya membentuk sesuatu yang jauh lebih sulit dibuat: kepercayaan.
Dan kepercayaan adalah semacam tabungan. Kita menabungnya sedikit demi sedikit. Ketika dibutuhkan, barulah kita merasakan bunganya.
Ma Joad juga memberikan pelajaran tentang kepemimpinan. Ketika keluarga mulai kehilangan arah, justru Ma yang menjadi pusat kekuatan. Ia tidak perlu berdiri di atas meja sambil berteriak tentang visi dan misi. Ia hanya memastikan keluarganya tetap bersama.
Di kantor, kita sering membayangkan pemimpin sebagai orang yang paling banyak bicara dalam rapat. Padahal tidak selalu. Ada pemimpin yang suaranya keras. Ada yang suaranya pelan. Ada yang banyak memberikan instruksi. Ada yang lebih banyak memberi contoh. Bahkan ada yang kepemimpinannya baru terasa ketika ia tidak ada.
Orang seperti itu seperti garam dalam masakan. Tidak banyak bicara, tidak tampil mencolok, tetapi ketika tidak ada, semua orang langsung sadar.
Dari Ma Joad kita belajar bahwa menjaga orang lain tetap bersama juga merupakan bentuk kepemimpinan.
Dan mungkin ini penting dalam pekerjaan kita. Ketika keadaan sedang sulit, kita tidak selalu membutuhkan orang yang mengatakan bahwa semuanya mudah. Kita membutuhkan orang yang mampu mengatakan, “Memang sulit. Tapi kita akan mengerjakannya bersama.”
Kalimat seperti itu lebih jujur dan, anehnya, lebih menenangkan.
Sebab optimisme yang paling berguna bukan optimisme yang mengatakan bahwa tidak ada masalah. Optimisme yang berguna adalah keyakinan bahwa meskipun masalah ada, kita mempunyai kemampuan untuk menghadapinya bersama.
Pada akhirnya, The Grapes of Wrath bukan cerita tentang kemenangan yang sempurna. Keluarga Joad tidak mendapatkan akhir seperti dalam dongeng. Mereka kehilangan banyak hal. Mereka tidak memperoleh kehidupan nyaman hanya karena mereka telah berjuang.
Tetapi mereka menemukan sesuatu yang lebih penting: kemanusiaan.
Mereka menemukan bahwa ketika keadaan mengambil rumah mereka, mereka masih mempunyai keluarga. Ketika keluarga mereka tercerai-berai, mereka menemukan orang-orang lain yang bersedia membantu. Ketika makanan sedikit, mereka masih bisa berbagi. Ketika kehidupan terasa tidak adil, mereka menemukan keberanian untuk peduli kepada orang lain.
Dan mungkin inilah bagian yang paling relevan bagi kita di kantor.
Kita tidak selalu bisa mengendalikan keadaan.
Kita tidak selalu bisa mengendalikan perubahan aturan.
Kita tidak selalu bisa mengendalikan bertambahnya pekerjaan.
Kita bahkan tidak selalu bisa mengendalikan printer yang tiba-tiba memilih untuk tidak bekerja ketika dokumen sedang sangat dibutuhkan.
Tetapi kita masih bisa mengendalikan bagaimana kita memperlakukan orang lain.
Kita bisa memilih untuk membantu.
Kita bisa memilih untuk mendengar.
Kita bisa memilih untuk berbagi pengetahuan.
Kita bisa memilih untuk tidak buru-buru menyalahkan.
Kita bisa memilih untuk bertanya lebih dulu sebelum menuduh.
Kita bisa memilih untuk melihat persoalan sebagai masalah bersama, bukan sebagai kesempatan mencari siapa yang harus disalahkan.
Dan yang paling penting, kita bisa memilih untuk mengatakan “kita”.
Karena “aku” memang bisa berjalan lebih cepat.
Tetapi “kita” bisa berjalan lebih jauh.
“Aku” mungkin bisa mengangkat satu meja.
“Kita” bisa memindahkan satu ruangan.
“Aku” bisa menyelesaikan satu pekerjaan.
“Kita” bisa menyelesaikan persoalan yang lebih besar.
“Aku” bisa mendapatkan pujian.
“Kita” bisa membangun sesuatu yang bertahan lebih lama daripada pujian.
Maka ketika kita kembali ke kantor esok hari, mungkin kita tidak perlu membawa seluruh teori John Steinbeck. Cukup bawa satu gagasan kecil dari perjalanan keluarga Joad: nasib kita saling terhubung.
Ketika pekerjaan kita baik, pekerjaan orang lain bisa menjadi lebih mudah.
Ketika kita membantu orang lain, sebenarnya kita sedang memperkuat pekerjaan kita sendiri.
Ketika kita menjaga rekan kerja, kita sedang menjaga organisasi.
Dan ketika kita bekerja dengan kesadaran bahwa di ujung pekerjaan kita ada manusia lain yang akan merasakan hasilnya, pekerjaan yang semula tampak seperti rutinitas dapat memperoleh makna baru.
Sebab pekerjaan bukan hanya tentang apa yang kita lakukan ketika tidak ada yang melihat.
Pekerjaan juga tentang apa yang terjadi pada orang lain karena kita telah melakukannya.
Itulah perjalanan dari “aku” menuju “kita”.
Perjalanan yang mungkin tidak membutuhkan truk tua seperti keluarga Joad.
Tidak membutuhkan jalan panjang menuju California.
Tidak membutuhkan badai debu.
Kadang-kadang perjalanan itu hanya membutuhkan satu langkah kecil di dalam kantor:
kita berhenti sejenak dari kesibukan, menoleh kepada rekan di sebelah kita, lalu berkata,
“Bagian ini bagaimana? Mari kita selesaikan bersama.”
Barangkali kalimat itu tidak akan masuk sejarah sastra.
Tidak akan memenangkan Pulitzer.
Tidak akan dicetak di sampul buku.
Tetapi di sebuah kantor pada hari yang sibuk, kalimat itu mungkin saja menjadi hal yang membuat sebuah pekerjaan selesai, sebuah masalah terurai, dan seseorang merasa bahwa ia tidak sedang bekerja sendirian.
Dan bukankah itu juga salah satu cara sederhana untuk membuat dunia sedikit lebih manusiawi?