Siang itu kota terasa seperti sebuah cerita yang sedang terburu-buru. Aku berdiri di tepi jalan, memandangi kendaraan yang datang dan pergi, sementara tugu kecil di tengah persimpangan berdiri diam seperti seseorang yang telah menunggu terlalu lama. Langit begitu biru, hampir tidak masuk akal. Aku bertanya-tanya, apakah kota memang selalu bergerak, atau sebenarnya hanya aku yang terlalu lambat memahami ke mana semua orang pergi.
Di seberang jalan, bangunan tua berdiri berdampingan dengan gedung-gedung baru. Masa lalu dan masa kini tampaknya sedang berbagi trotoar tanpa saling menyapa. Aku menyukai pemandangan semacam itu. Ada sesuatu yang ganjil di dalamnya, sesuatu yang membuatku merasa bahwa waktu bukanlah garis lurus, melainkan jalan yang sesekali berputar dan membawaku kembali ke tempat yang pernah kukenal.
Lampu lalu lintas berganti, motor-motor bergerak, dan aku akhirnya menyeberang. Tidak ada kejadian penting hari ini. Tidak ada seseorang yang tiba-tiba muncul membawa jawaban atas pertanyaan hidupku. Namun, ketika aku berjalan menjauh dari persimpangan itu, aku merasa seperti baru saja meninggalkan sebuah bagian kecil dari diriku di sana. Mungkin suatu hari nanti aku akan kembali, dan bagian itu masih menungguku.