Bakmi Jowo Tugu Boto

Malam itu, aku berhenti di sebuah warung kecil ketika lelaki itu sedang menggoreng sesuatu di atas bara. Percikan api beterbangan seperti kunang-kunang yang kehilangan jalan pulang, menyentuh gelap lalu lenyap sebelum sempat menjadi cahaya. Jalanan di depanku hampir kosong, tetapi dari wajan dan bara itu seolah ada kehidupan lain yang terus menyala, kehidupan yang tidak pernah mengenal jam.

Aku memperhatikannya bekerja dalam diam. Tangannya bergerak seperti seseorang yang telah menghafal sebuah lagu sejak masa kanak-kanak, sementara asap dan panas menyelimuti tubuhnya. Di tempat itu, aku merasa malam bukanlah sesuatu yang gelap, melainkan sesuatu yang sedang dimasak perlahan di atas bara, bersama lapar, lelah, dan harapan orang-orang yang belum ingin pulang.

Ketika percikan api terakhir jatuh ke tanah, aku menyadari bahwa mungkin begitulah kehidupan bertahan: dengan sedikit bara yang dijaga seseorang ketika seluruh kota memilih tidur. Aku berdiri di sana, memandangi cahaya kecil itu, dan untuk beberapa saat merasa bahwa malam yang luas ini sebenarnya tidak pernah benar-benar gelap.