Berangkat

Malam ini gelapnya bukan main, seperti tinta yang sengaja ditumpahkan Tuhan untuk menguji seberapa berani manusia menembus sunyi. Aku duduk di balik kemudi, ditemani nyala panel speedometer yang berwarna jingga temaram, bagai kunang-kunang yang kelelahan namun enggan mati. Jarumnya menunjuk angka dua puluh, seolah berbisik pelan agar aku tidak terburu-buru, karena jalanan ini bukanlah jalan yang bisa ditaklukkan dengan gegabah. Hanya ada aku, mobil ini, dan sepetak cahaya lampu utama yang membelah pekatnya malam.

Di kiri-kananku, dunia seakan tertidur lelap. Rumah-rumah petak berbaris dalam gelap, hanya sesekali lampu jalan menyala sendu, seperti mata yang setengah terpejam. Pikiranku melayang pada Iliana, anakku, yang mungkin sedang tertidur pulas di rumah, memeluk mimpinya. Bayangan wajahnya menjadi kompas yang menuntun langkahku, mengubah rasa lelah menjadi kekuatan. Sebab bagiku, tidak ada perjalanan yang terlalu jauh, tidak ada malam yang terlalu gelap, selama aku tahu ada senyum kecil yang menanti kepulanganku di ujung sana.

Di kejauhan, lampu-lampu kecil mulai berkelip bagai bintang yang jatuh ke bumi, memberi isyarat bahwa sebentar lagi aku akan tiba. Aku menarik napas panjang, merasakan hangatnya udara di dalam mobil yang kontras dengan dinginnya malam di luar. Sebab aku tahu, di ujung kegelapan ini, ada rumah kecil yang hangat, tempat aku bisa melepas penat dan menjadi diri sendiri. Dan bagi seorang bapak, tidak ada cahaya yang lebih terang daripada senyum anaknya, yang mampu mengusir segala letih dan gelap di perjalanan malam ini.