Bola, Buku, Iliana

Lampu ruang keluarga ini temaram, menyorot punggung mungil Iliana, anakku, yang berdiri kaku mematung di depan layar kaca. Gaun bunga-bunganya yang sedikit kusut seakan menjadi saksi betapa cepatnya waktu berlalu. Di layar itu, pemain sepak bola bernomor punggung sepuluh sedang menyanyikan lagu kebangsaan dengan khidmat, dada mereka membusung penuh kebanggaan. Iliana terpaku menatapnya, dan aku yakin, di dalam hatinya yang bening, benih-benih keberanian dan cinta pada tanah air sedang mulai bersemi.

Di bawah layar, sebuah piano dan buku tebal berjudul "21 Pelajaran untuk Abad ke-21" tergeletak diam, menemani hari-harinya. Buku itu bagai gerbang menuju dunia yang keras namun penuh peluang, sementara tuts-tuts piano itu adalah jembatan agar jiwanya bisa bernyanyi. Dunia anakku tidaklah mudah, ia harus belajar memahami zaman yang terus berubah, namun di saat yang sama, aku ingin ia tetap memelihara kelembutan hatinya. Aku ingin ia tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, seperti yang diajarkan buku itu, namun juga peka, seperti melodi yang akan ia mainkan.

Malam ini, di ruang keluarga yang sederhana ini, aku menyaksikan sebuah potret masa depan sedang dilukis. Iliana mungkin belum menyadari betapa besar harapanku padanya. Aku berjanji dalam hati, apa pun yang terjadi, aku akan menjadi penonton setia di barisan paling depan. Aku akan memastikan langkahnya kelak setegar para pemain bola itu, dan hatinya sekaya nada-nada yang akan ia ciptakan. Sebab bagiku, Iliana adalah doa yang menjelma nyata.