Daur Hidup

Aku menggendong Iliana dengan erat di depan dinding pameran bertuliskan "DAUR HIDUP". Lampu sorot yang hangat menerangi teks panjang tentang siklus kehidupan manusia, namun perhatianku justru terbagi antara membaca tulisan itu dan merasakan helaan napas kecil anakku di pelukanku. Ia terlihat lelah, wajahnya ia sembunyikan di balik jaketku, mencari rasa aman di tengah suasana ruangan yang temaram.

Mataku membaca kalimat demi kalimat tentang fase pertumbuhan manusia, mulai dari kelahiran, pernikahan, hingga kematian, yang digambarkan melalui keindahan motif batik. Rasanya baru kemarin aku menantikan kelahirannya, dan kini ia sudah tumbuh menjadi anak yang aktif. Fase pertumbuhan yang disebutkan di dinding itu sedang kami jalani bersama, dan pelukan Iliana malam ini terasa seperti pengingat nyata akan betapa cepatnya waktu berputar.

Mungkin seperti makna simbolis dalam batik yang tertulis di sana, setiap tahap hidup memiliki doa dan harapannya sendiri. Dalam heningnya ruang pameran ini, aku menyadari bahwa tugas terbesarku saat ini adalah menjaga dan membimbing Iliana melewati setiap fase kehidupannya. Aku mengecup lembut kepalanya, bersyukur karena di tengah siklus hidup yang panjang ini, aku memiliki kesempatan untuk menjadi bapaknya.