Ibu

Di bawah pendar lampu neon yang berkedip bagai kunang-kunang kelelahan, foodcourt itu berdengung seperti sarang lebah raksasa yang enggan tidur. Suara sendok beradu dengan piring, teriakan pesanan, dan tawa manusia bercampur menjadi satu simfoni kekacauan. Namun, di tengah pusaran itu, ibuku duduk bagai sebuah pulau sunyi yang terlepas dari jeratan waktu. Ia menjelma menjadi monumen ketenangan, seolah dunia material di sekelilingnya hanyalah fatamorgana yang tak perlu dihiraukan.

Mataku tak bisa lepas dari tangan-tangan tuanya yang memegang buku di hadapannya. Tangan yang kulitnya telah keriput dimakan usia itu adalah manuskrip kuno yang mencatat seluruh perjalanan hidupku, peta dari setiap luka dan doa yang pernah ia panjatkan di sepanjang malam. Jemarinya membalik lembaran kertas tipis itu dengan sangat hati-hati, seolah sedang menyentuh sekeping hati yang paling rapuh.

Aku menyayanginya dengan cara yang bahkan tak sanggup dijelaskan oleh kata-kata. Menatapnya di siang ini, aku menyadari bahwa keajaiban tidak selalu datang dalam wujud peri atau naga; ia ada di dalam sosok perempuan tua yang terus berdoa untuk anak-anaknya, bahkan ketika dunia di sekelilingnya telah sibuk dengan urusannya sendiri. Di dalam foodcourt yang bising ini, ibuku adalah sihir paling nyata yang pernah kumiliki, dan aku berjanji pada diriku sendiri, di antara gemuruh suara sendok dan piring, bahwa aku akan menjaga sisa-sisa waktunya dengan segenap jiwa dan ragaku.