Aku menatap sosok mungil itu, Iliana yang duduk manis dengan kemeja merah menyala. Rambutnya tergerai acak, jatuh di pipinya, sementara senyumnya mengembang lebar, memperlihatkan deretan gigi susu yang putih. Ada semacam cahaya yang memancar dari wajahnya, sebuah sinar kebahagiaan yang tak dibuat-buat, seolah seluruh alam semesta sedang berpesta di dalam hatinya.
Kedua tangannya terlipat di depan, jemari-jemarinya saling bertautan, membentuk sebuah isyarat yang mungkin hanya ia sendiri yang tahu maknanya. Ia menunduk, matanya menatap ke bawah, tapi sudut bibirnya yang terangkat itu menunjukkan bahwa ia sedang menyembunyikan tawa atau sebuah rahasia kecil yang lucu. Mungkin ia sedang berdoa dalam bahasa anak-anak, atau memainkan sandiwara di kepalanya.
Sebuah kehangatan yang mengingatkanku bahwa di tengah kerasnya dunia, ada satu sosok yang selalu bisa membuat segalanya terasa ringan. Iliana adalah puisi yang tak pernah selesai kutulis, sebuah mahakarya yang lahir dari cinta. Aku hanya bisa bersyukur, karena di malam-malam yang sunyi, senyumnya adalah lentera yang paling terang.