Gaun bermotif bunga-bunga yang dipakai seakan menyihir ruangan ini menjadi taman surgawi yang sunyi. Jemari lentiknya ia rapatkan, merangkai sebuah lambang hati yang melayang tepat menembus kalbuku. Sebuah isyarat sederhana, namun terasa bagai mantra kuno yang sanggup meluruhkan segala letih dan duka.
Senyumnya merekah bagai mutiara yang baru saja dipoles oleh embun pagi, memamerkan deretan gigi susu yang putih bersih. Tawa renyahnya adalah simfoni yang mengalahkan bisingnya dunia.
Aku akan menjaga nyala jiwanya agar tidak pernah padam ditelan gelapnya kehidupan. Biarlah ia terus merangkai jemari mungilnya menjadi bentuk hati, sebab bagiku, Iliana adalah hal terindah yang pernah dituliskan takdir dalam lembaran hidupku.