Kalimantan Tengah

Aku masih bisa merasakan hawa panas yang aneh di stasiun itu, di mana lampu-lampu sorot memantulkan bayangan panjang di lantai marmer yang dingin. Di hadapanku, Rizal berdiri dengan senyum yang seolah menantang takdir, tubuhnya terbebani oleh ransel besar, tas selempang hitam, dan koper oranye yang menyeret setengah jiwanya ke tanah. "Pemeriksaan Tiket" tertulis di atas kepalanya, sebuah gerbang menuju babak baru, sementara aku hanya bisa terdiam, menyaksikan sahabatku bersiap meninggalkan dunia yang kami kenal.

Ia akan menuju Kalimantan Tengah, ke sebuah wilayah bernama Gunung Mas yang dalam imajinasiku terbayang sebagai rimba raya yang basah, tempat sungai-sungai mengalir seperti ular raksasa dan pepohonan menyimpan rahasia zaman purba. Di sana, di sekolah rakyat, ia akan menjadi penjaga nyala api pengetahuan, mengajar anak-anak yang mungkin belum pernah melihat gedung pencakar langit. Aku tahu, ada sesuatu yang magis dalam keputusannya, sebuah panggilan yang tidak bisa dijelaskan oleh logika, seperti halnya hujan yang turun tanpa peringatan di bulan April.

Saat ia melangkah menuju pemeriksaan, aku menyadari bahwa waktu adalah sungai yang kejam, yang memisahkan kita tanpa ampun. Aku melambaikan tangan, mencoba mengukir senyum terakhir, tetapi di dalam dadaku, ada kekosongan yang mulai tumbuh. Rizal akan menjadi legenda di tanah seberang, sementara aku akan tinggal di sini, menunggu surat-surat yang mungkin tak pernah datang, atau kabar yang terbawa angin dari ujung Kalimantan, tempat di mana sahabatku kini menanam harapan masa depan.