Langit-langit putih ini begitu sunyi, sebuah kanvas kosong yang tak pernah memberi jawaban. Kurentangkan jemari ke atas, tapi tanganku ini bukan lagi milikku sepenuhnya. Ia telah menjelma menjadi mesin yang diprogram untuk terus bergerak, mengejar sesuatu yang bahkan tak pernah kutahu apa. Aku adalah tuan sekaligus budak bagi diriku sendiri, mengeksploitasi tubuh dan jiwaku tanpa ampun, demi sebuah capaian yang tak pernah selesai.
Di zaman yang memuja produktivitas ini, berhenti sejenak terasa seperti dosa. Setiap inci jemariku dipaksa untuk selalu meraih, selalu menghasilkan, selalu berguna. Tidak ada lagi ruang untuk sekadar merenung, menikmati kesunyian, atau membiarkan pikiran mengembara tanpa tujuan. Kita semua terjebak dalam lingkaran setan yang kita bangun sendiri, berlari sekuat tenaga di atas treadmill kehidupan yang tak pernah sampai ke mana-mana.
Malam ini, aku ingin belajar untuk tidak melakukan apa-apa. Membiarkan tanganku terkulai lemas, menerima bahwa tidak semua hal harus digapai, tidak semua detik harus diisi. Sebab kelelahan ini bukanlah tanda kelemahan, melainkan bisikan dari jiwa yang merindukan kedamaian. Mungkin, dengan berhenti menggapai, aku baru bisa benar-benar menyentuh hidup itu sendiri.