Kertas di depan mataku ini berbau seperti kayu mati yang dipanggang, tapi tinta hitamnya sedang menenun ramalan yang mengerikan. Di bawah judul "Kesetaraan" yang terlihat begitu saleh, buku ini berbisik tentang sebuah jagat raya baru di mana angka-angka dan data telah menjelma menjadi dewa yang rakus. Kita tidak lagi berperang dengan pedang atau meriam; kita sekarang saling membunuh perlahan dengan algoritma dan jejak digital, membangun menara Babel dari bit yang tak kasatmata.
Dulu, manusia membagi derajat berdasarkan darah dan tanah. Kini, segelintir antelkas duduk di singgasana kaca, menikmati kue pembangunan, sementara kita yang di bawah ini hanyalah kawanan pemburu-pengumpul modern yang sibuk memungut remah-remah kepalsuan di layar ponsel. Setiap kali jempol kita bergeser, setiap kali kita mengetik kata kunci, kita sedang menyuapi monster raksasa itu dengan daging-daging kehidupan kita sendiri. Kita mengira sedang berkomunikasi, padahal kita sedang dijual, diikat, dan dikemas rapi oleh ketimpangan yang tak pernah kita sadari.
Aku menutup buku ini, dan ruangan mendadak terasa lebih dingin. Di luar jendela, lampu-lampu kota menyala seperti kunang-kunang yang disekap dalam toples, indah namun tak berdaya. Siapa yang memiliki data akan menguasai masa depan, begitu kata halaman itu. Dan aku, dengan telapak tangan yang berkerut ini, sadar bahwa masa depanku telah lama digadaikan pada mesin-mesin yang tak pernah tidur. Kita semua sedang berjalan di atas tali yang sangat tipis, dan di bawah sana, jurang ketimpangan itu menganga lebar, menunggu siapa saja yang terpeleset.