Kopi Kental

Di telapak tanganku, bungkus kopi itu tergeletak bagai sebuah jimat kuno dari negeri yang belum pernah kutemukan di peta. Permukaannya yang cokelat mengkilap memantulkan cahaya lampu kamar, menciptakan ilusi seolah-olah es kopi susu yang tercetak di atasnya benar-benar menetes keluar, siap membasahi duniaku yang kering. Bungkus plastik berlapis aluminium itu terasa dingin, namun di dalamnya tersimpan sebuah alkimia pekat yang mampu membangunkan orang mati atau setidaknya, menahan kantukku untuk menyaksikan malam yang kian menua. Ada semacam keajaiban dalam benda mungil seberat tiga puluh enam gram ini, sebuah janji manis yang dibalut pahit.

Begitu ujung bungkusnya kusobek dengan gigi, aroma biji sangrai dan susu kental langsung menyeruak, menembus rongga hidung dan memanggil arwah-arwah kenangan yang selama ini bersembunyi di sudut-sudut rumah. Bau itu bukan sekadar bau; ia adalah mesin waktu yang membawaku kembali ke masa ketika orang-orang tua di kampung halaman duduk melingkar di beranda, menyeruput cairan hitam sambil membicarakan hal-hal yang tak pernah kutahu artinya. Cairan kental itu kuberi air panas, dan perlahan-lahan ia mengembang, mengaduk-aduk dirinya sendiri menjadi sebuah pusaran cokelat tua yang memabukkan, seperti badai kecil yang sengaja kunikmati di dalam gelas.

Malam ini, ketika dunia luar telah tertidur lelap dan hanya suara jangkrik yang tersisa, seruputan pertama kopi kental itu menyentuh lidahku. Manisnya begitu menggigit, pahitnya begitu jujur, seolah hidup ini sedang menamparku pelan-pelan lewat secangkir minuman. Aku menatap sisa bungkus yang kusut di atas meja, menyadari bahwa manusia memang makhluk yang aneh; kita rela begadang, menenggak pahitnya dunia, hanya untuk merasakan sedikit kehangatan yang menipu di tengah malam yang sunyi.