Lari dari Waktu

Malam membentangkan sayap hitamnya, menelan jalanan aspal ini bulat-bulat hingga hanya menyisakan sepetak cahaya kuning yang menyala garang dari balik gerobak kayu. Lampu itu terlalu terang, menusuk retina bagai mata dewa yang menolak tidur. Di belakang kaca kotaknya, bayangan sang penjual tenggelam dalam kabut asap dan uap, seperti hantu yang terperangkap dalam akuarium, menjual sepotong kehidupan di tengah dinginnya malam. Pepohonan di atas sana menggantung seperti paru-paru raksasa yang basah, ikut mengawasi riuh rendah yang perlahan mati.

Seekor kuda besi tiba-tiba melesat dari arah kanan, membawa sebutir nyala merah di buritannya. Pengendara itu melesat bagai bara yang lepas dari tungku, membelah gelap dengan kecepatan yang putus asa, entah sedang dikejar waktu atau sedang berlari dari masa lalunya sendiri. Aku menatap kepergiannya dari balik trotoar, membiarkan angin malam yang berbau tanah basah dan minyak goreng menampar wajahku. Jalanan ini sunyi, tapi tidak mati; ada denyut nadi yang berdetak pelan di antara derit roda gerobak dan deru mesin yang berlalu.

Aku berdiri di pinggir jalan, menyadari bahwa kehidupan memang tak pernah benar-benar berhenti, bahkan ketika dunia terlelap. Gerobak itu adalah altar kecil tempat manusia menawar nasib, tempat di mana keringat dan harapan dilebur menjadi sepiring makanan. Malam ini, aku hanyalah seorang penonton yang diam-diam belajar tentang ketabahan, dari sebutir lampu neon yang nekat menyala di tengah pekatnya malam.