Larut

Malam itu, gang di depan mataku membentang bagai sebuah luka lama yang enggan menutup, ditelan oleh kegelapan yang begitu pekat hingga seolah waktu di dalamnya telah berhenti berdetak. Satu-satunya tanda kehidupan adalah lampu jalan di sisi kiri, yang memancarkan cahaya kuning kecokelatan bagai mata raksasa yang terjaga, menumpahkan lingkaran-lingkaran pendar aneh ke atas aspal basah. Rumah-rumah berjajar dengan gerbang tertutup rapat, menahan napas agar tidak membangunkan rahasia-rahasia yang tertidur di dalamnya.

Aku berdiri termangu di tengah kesunyian yang begitu nyata, seakan-akan bisa kuraba dengan ujung jari. Udara malam berbau tanah lembap dan karat besi tua, sebuah aroma yang membangkitkan kenangan-kenangan yang belum pernah terjadi. Gang ini, dengan deretan lampu yang meredup di kejauhan seperti kunang-kunang sekarat, tampak seperti labirin tanpa ujung yang sengaja dibangun oleh para hantu untuk menguji keberanian orang hidup. Sunyi di sini bukanlah ketiadaan suara, melainkan sebuah entitas yang bernapas perlahan di setiap sudut, mengawasiku yang berdiri bagai patung.

Aku menghela napas panjang, merasakan dinginnya malam merayap ke dalam tulang. Perlahan aku melangkah, membiarkan bayanganku memanjang di bawah lampu yang terus berkedip samar. Sebab aku tahu, sepanjang apa pun gang ini, dan sepekat apa pun tinta yang menutupi langit malam ini, di sana masih ada sebuah pintu yang tak pernah terkunci, tempat di mana kopi masih hangat dan doa-doa kecil setia menunggu kepulanganku.