Di telapak tanganku, gumpalan kelopak putih itu tergeletak lembut, bagai serpihan salju yang entah bagaimana tersesat jatuh di musim kemarau. Aroma melati menusuk hidung, membawa serta pusaran waktu yang tak bisa lagi kubendung. Di depan rumah, semak itu terus tumbuh subur, seolah tak pernah tahu bahwa orang yang dulu merawatnya telah lama pergi menghadap Sang Pencipta. "Entah bagaimana bunga Melati di depan rumah selalu mengingatkan ke Mbah Sastro Swargi langgeng, Mbah," bisik kalimat itu di dalam kepalaku, memanggil kembali sosok yang telah tiada.
Mbah Sastro bukanlah orang yang suka berbicara banyak. Ia lebih suka duduk diam di beranda, menatap matahari terbenam sambil memetik melati satu per satu dengan jari-jemarinya yang keriput. Baginya, bunga mungil itu adalah doa yang tidak pernah ia ucapkan dengan suara keras. Kini, ketika jasadnya telah menyatu dengan tanah, kehadirannya justru terasa lebih nyata lewat aroma yang menguar dari kelopak-kelopak putih ini. Alam seakan menolak melupakan kebaikannya, menitipkan sisa-sisa kehangatannya pada setiap kuntum yang mekar.
Aku menggenggam erat bunga-bunga itu, merasakan getaran halus kehidupan yang terus berputar. Mbah, doa-doamu kini telah menjadi taman di depan rumah kami. Setiap kali angin bertiup dan membawa wanginya, aku tahu engkau sedang tersenyum di sana. Swargi langgeng, Mbah. Tempatmu memang di hati kami, abadi dalam setiap helai kelopak melati yang tak pernah layu oleh waktu.