Langit sore ini bagai kanvas yang basah oleh tinta waktu, memudar perlahan menuju senja yang kelabu. Di sudut kiri, sebuah bangunan kokoh berdiri, dingin dan tak bernyawa, seperti benteng dunia modern yang tak pernah peduli pada bisikan alam. Namun tepat di tengah pelataran, sebatang tiang bendera menjulang sunyi. Ia berdiri tegak, sendiri, seakan menjadi tiang penyangga seluruh langit yang mulai kelelahan menahan beban awan.
Bendera Merah Putih itu terkulai lemas. Tidak ada angin yang menyapanya, tidak ada gelombang yang membuatnya menari gagah di angkasa. Kain pusaka itu hanya diam, menggantung pasrah, seperti suara rakyat kecil yang tenggelam dalam riuhnya hiruk-pikuk kabel-kabel listrik yang membelit pepohonan di sekitarnya. Ada semacam kesedihan yang menyusup ke dalam dadaku melihatnya. Negeri ini, pikirku, kadang-kadang benar-benar kehilangan angin untuk sekadar berkibar, tercekik oleh jaring laba-laba kepentingan yang tak ada habisnya.
Tetapi pepohonan di latar belakang tetap hijau, rimbun, dan menyejukkan mata. Akar-akar mereka mencengkeram bumi, menolak untuk tumbang, meski kabel-kabel melintang membelit ranting-rantingnya. Di situlah aku menemukan jawabannya. Merah putih ini mungkin sedang diam, tapi ia tidak pernah mati. Aku akan terus berdiri di sini, menjadi angin bagi bendera itu, menjadi penjaga bagi setiap jengkal tanah air ini. Sebab aku tahu, di balik langit yang kelabu, matahari akan selalu punya cara untuk kembali bersinar.