Moen - moen

Cahaya keemasan di ruang ini seakan sengaja memeluk sosok mungilnya, menciptakan aura yang begitu tenang di tengah riuh dunia yang tak pernah berhenti berputar. Iliana duduk terpaku pada sedotan plastik yang ia gigit lembut, menyeruput minuman dengan khidmat. Di telinga mungilnya, liontin pelangi itu menggantung rapuh, bagai sepotong cakrawala yang sengaja dititipkan ke bumi untuk mengingatkanku bahwa keajaiban masih ada. Atasan putih berenda yang ia kenakan membuatnya tampak seperti bidadari kecil yang baru saja turun dari kahyangan untuk menguji kesabaranku.

Pikiranku melayang, membayangkan betapa cepatnya waktu berlalu. Baru kemarin rasanya ia belajar merangkak, dan kini ia sudah bisa duduk manis menikmati minumannya sendiri. Ada semacam keajaiban dalam hal-hal sederhana seperti ini, sebuah bisikan halus dari semesta yang mengatakan bahwa hidup ini bukanlah tentang pencapaian besar, melainkan tentang momen-momen kecil yang kita syukuri. Aku memperhatikannya dengan saksama, menyimpan setiap detail di dalam memoriku, karena aku tahu, anak-anak tumbuh begitu cepat, dan aku tidak ingin melewatkan satu detik pun dari keajaiban itu.

Aku ingin memastikan bahwa dunianya selalu dipenuhi warna-warni harapan, meski badai kehidupan di luar sana begitu keras. Biarlah ia menikmati minumannya dengan damai, karena bagiku, tidak ada pemandangan yang lebih indah di seluruh jagat raya ini selain melihat anak perempuanku tumbuh dengan bahagia, sejahtera, dan penuh cinta.