Pusing Dua

Langit senja di atas Surakarta membara bagai bara yang enggan padam, namun kepalaku jauh lebih membara. Ia berdenyut seperti genderang perang yang ditabuh tanpa henti, menyesakkan setiap inci kesadaranku. Bolehkah kutukar kepalaku yang sangat sakit ini dengan kepalamu? Mungkin itu cara paling jujur untuk melepas beban yang tak tertahankan ini.

Denyut ini serupa asap yang membumbung di langit Kalimantan. Bertahun-tahun tanah di sana terbakar, mencekik paru-paru rakyat, dan menutup matahari, tapi pemerintah tetap saja bisu. Asap itu tak kunjung terselesaikan, sama seperti pusing yang menggerogoti kepalaku. Janji-janji tinggal janji, sementara kita hanya bisa menahan sesak yang tak berujung.

Aku terus melaju pelan di atas aspal, menembus lampu kuning dan bayang-bayang pohon. Bolehkah kutukar kepalaku yang sangat sakit ini dengan kepalamu? Biarlah mereka yang berkuasa merasakan denyut ini, agar tahu bagaimana rasanya sakit yang diabaikan. Malam ini, aku hanya bisa pasrah, berharap esok langit kembali biru dan kepala ini berhenti berdenyut.