Layar di depanku ikut menghitam, seolah menelan seluruh cahaya yang tersisa di ruangan ini. Pusing ini bukan sekadar sakit, ia adalah sebuah pemberontakan dari dalam tubuh, sebuah pesta pora yang tak diundang oleh saraf-saraf kepalaku. Aku menutup mata, tapi kegelapan di balik kelopak mataku justru lebih riuh dari dunia nyata. Ada suara gemuruh seperti air terjun yang jatuh ke dasar jurang, memantul-mantul di dinding tengkorakku, mengubah isi kepalaku menjadi lautan yang bergolak.
Aku mencoba bangkit, tapi tubuhku serasa terbuat dari timah yang meleleh, berat dan tak berbentuk. Dunia ini berputar terlalu cepat, seperti komidi putar yang digerakkan oleh setan nakal di pasar malam. Setiap detak jantung terasa seperti palu godam yang menghantam dinding-dinding kesadaranku. Aku meraih meja, mencengkeramnya erat, berharap benda mati itu bisa menjadi jangkar yang menahanku dari terlempar ke pusaran pusing yang tak berujung.
Dalam hening yang menyiksa ini, aku menyadari betapa rapuhnya manusia. Kita bisa sombong dengan segala pencapaian, tapi cukup satu pusing yang datang tanpa permisi untuk membuat kita tersungkur, tak berdaya seperti kerang yang terhempas di pantai. Malam ini, aku hanya bisa pasrah, menyerahkan tubuhku pada kekuatan yang lebih besar. Biarlah badai ini berlalu, karena aku tahu, setelah gelap yang pekat, akan ada pagi yang menuntutku untuk kembali berdiri, meski dengan kepala yang masih sedikit berdenyut.