Rumi

Aku menatap lembaran buku itu, membayangkan seekor hewan yang dipakaikan mahkota, didudukkan di singgasana, dan diberi gelar bangsawan. Orang-orang mungkin akan bertepuk tangan, menundukkan kepala, dan memanggilnya "Yang Mulia". Tapi ketika ia membuka mulut, yang keluar tetaplah gonggongan. Ketika ia berjalan, yang tampak tetaplah cakar. Tempat yang megah tidak pernah bisa mengubah kodrat; ia hanya menyembunyikannya di balik kilauan lampu yang menyilaukan mata.

Pikiranku melayang jauh, tapi kali ini aku tak ingin menyebut nama. Ada sebuah kursi tinggi di suatu negeri, kursi yang seharusnya hanya diduduki oleh mereka yang telah melalui jalan panjang penuh ujian, bukan jalan pintas yang penuh tanya. Ketika seseorang duduk di sana tanpa bekal yang cukup, tanpa jejak langkah yang jelas, maka yang terjadi bukanlah keajaiban, melainkan keanehan. Layaknya seekor hewan yang dipaksa berdiri di atas podium, ia mungkin terlihat gagah dari kejauhan, tapi matanya kosong, dan langkahnya goyah. Aku tidak bisa menutup mata dari kenyataan itu. Aku tidak bisa berpura-pura melihat singa, ketika yang ada di depanku hanyalah bayangan yang diproyeksikan oleh kepentingan.

Biarlah orang-orang bersorak dan memuja tempat yang megah itu. Biarlah mereka menutupi telinga dari suara nalar. Bagiku, kehormatan sejati tidak pernah lahir dari kursi yang diduduki, melainkan dari jejak yang ditinggalkan. Dan malam ini, di hadapan buku ini, aku hanya bisa menghela napas. Sebab aku tahu, seekor anjing di tempat megah tetap saja anjing. Dan aku, dengan segala kerendahan hati, memilih untuk tidak mengakui kemegahan yang dibangun di atas kebohongan.