Langit sore ini membentang bagai selembar sutra kuno yang perlahan luntur dimakan usia, berkelindan antara biru pucat dan jingga keemasan yang merembes dari ufuk. Di sisi kiriku, pilar beton raksasa kantor ini menjulang seperti penjaga waktu yang bisu, dingin, dan tak pernah lelah mengawasi kami yang berlalu-lalang. Menjelang magrib, gedung ini seolah berubah menjadi sebuah monumen yang menelan riuh rendah manusia, menyisakan hanya keheningan yang pekat di sela-sela kusen jendelanya, seakan bangunan itu sendiri sedang menahan napas menunggu azan berkumandang.
Di kejauhan, tiang listrik dengan transformatornya yang hitam legam tampak seperti makhluk mekanis kuno yang tengah tertidur lelap, menunggu perintah dari alam lain untuk kembali mengalirkan nyawa bagi kota. Pepohonan di balik tembok tinggi itu bergoyang pelan, membisikkan rahasia-rahasia sunyi yang tak pernah sampai ke telinga para pekerja yang sibuk. Sisa-sisa cahaya senja menari-nari di atas aspal, menciptakan bayangan-bayangan memanjang seolah hantu-hantu lelah yang baru saja pulang dari pertempuran, melintas tanpa suara menuju peristirahatan mereka.
Aku berdiri termangu di pelataran, membiarkan angin senja menyapu keringat dan penat hari ini. Menjelang magrib, waktu seakan berhenti sejenak, menggantung di antara kewajiban yang baru saja usai dan kehangatan rumah yang masih jauh. Sebentar lagi, suara azan akan membelah langit, mengingatkanku bahwa di tengah megah dan dinginnya bangunan ini, kita hanyalah debu-debu kecil yang merindukan kedamaian.