Lantai keramik rumah ini menjelma menjadi hamparan padang ilmu yang luas. Di tengahnya, Iliana duduk bersimpuh bagai seorang penjelajah kecil yang baru saja menemukan peta harta karun. Senyumnya mengembang, pipinya ditopang kedua tangan mungil, matanya berbinar memandangi tumpukan buku-buku berwarna-warni itu. Ada semacam kebahagiaan yang murni, sebuah sukma yang bersorak tanpa suara, melihat dunia yang begitu luas terbentang hanya dari lembaran-lembaran kertas.
Buku-buku itu bukan sekadar benda mati. Mereka adalah kapal-kapal kertas yang akan membawanya berlayar melampaui batas cakrawala. Ada cerita tentang binatang, tentang angka, dan tentang dunia yang jauh di sana. Aku, sebagai bapak, hanya bisa tertegun menyaksikan betapa kepingan-kepingan pengetahuan itu telah menjadi magnet yang begitu kuat bagi jiwanya. Mungkin inilah wujud doa paling sederhana yang pernah aku panjatkan: melihat anakku jatuh cinta pada huruf dan kata.
Di sudut ruangan ini, aku menyadari bahwa harta yang paling berharga bukanlah emas atau perak, melainkan rasa ingin tahu yang menyala-nyala di matanya. Biarlah malam ini ia berselimutkan mimpi-mimpi indah bersama buku-bukunya. Dan esok, ketika matahari terbit, aku berjanji akan terus menjadi lentera yang menuntun setiap langkahnya, memastikan bahwa samudra ilmu yang ia arungi akan membawanya ke pantai kebijaksanaan yang sesungguhnya.