Sore

Langit senja itu membiru dengan warna biru yang begitu pekat dan sintetis, seolah-olah semesta telah menumpahkan seluruh tinta botolnya ke atas kanvas yang terlalu licin, dan aku berdiri di tepi persimpangan, terpaku pada lampu lalu lintas yang menyala merah bagai mata seekor iblis yang sedang menahan amarah. Cahaya kuning dari lampu jalan menyorot dedaunan di sebelah kiriku, mengubahnya menjadi kawanan kupu-kupu fosfor yang membeku, sementara aspal di hadapanku membentang luas, sebuah panggung teater kosong yang menunggu pertunjukan tragis dari kendaraan-kendaraan yang melintas tanpa henti.

Di kejauhan, truk-truk raksasa berdiri diam seperti gajah besi yang kelelahan, dengan papan reklame menyala di latar belakang, menawarkan ilusi kebahagiaan atau sekadar potongan realitas yang lebih murah. Ada sebuah mobil putih yang berhenti di sudut pandangku, dan entah kenapa, hembusan angin malam yang membawa aroma gas buang dan debu itu terasa seperti jemari hantu yang menyapu tengkukku, memaksaku untuk menyadari betapa absurdnya keberadaanku di tengah simpang siur ini, di mana setiap pengendara adalah karakter dalam novel yang tidak pernah selesai ditulis.

Aku menatap lampu merah itu, merasakan detak waktu yang berdenyut lambat, dan tiba-tiba teringat pada sebuah paradoks yang manis: betapa lalu lintas di kota ini, dengan segala hiruk-pikuk dan aturannya, pada akhirnya hanyalah koreografi dari keheningan yang panjang. Aku menunggu, bukan sekadar untuk lampu berubah hijau, melainkan untuk satu momen kecil di mana dunia berhenti berputar, dan dalam keheningan malam yang berwarna biru elektrik itu, aku menyadari bahwa aku hanyalah sebuah siluet, sebuah kata kerja yang menunggu untuk dikonjugasikan di dalam kalimat panjang tak berujung yang bernama kehidupan.