Hari ini, di bawah langit yang kelabu, isyarat yang sama telah menjelma menjadi bahasa perlawanan. Tiga jari tegak berdiri, seperti tiang-tiang penyangga langit yang mulai retak, sementara jemari lainnya terlipat pasrah di balik telapak yang berkerut. Ada yang memaknainya sebagai liberté, égalité, fraternité: kebebasan, kesetaraan, persaudaraan.
Di luar sana, ribuan manusia turun ke jalan membawa spanduk dan amarah yang telah lama dipendam. Mereka menyuarakan asap yang membumbung di Kalimantan dan Sumatra, tanah yang terbakar, dan paru-paru anak-anak yang sesak. Mereka menuntut agar pemerintah menetapkan bencana nasional, mengadili korporasi yang merampas hak hidup rakyat.
Tiga jari ini mungkin tak akan mampu menggenggam seluruh dunia, tak akan sanggup memadamkan api yang membakar hutan, atau membungkam gas air mata yang menyengat. Tapi ia cukup kuat untuk memeluk erat apa yang menjadi alasanku untuk terus bernapas.