Yupi adalah kucingku, seekor makhluk kecil berwarna jingga yang selalu tampak seperti baru saja menemukan sebuah rahasia besar di dunia. Ia duduk di atas aspal dengan ekor panjang terhampar di belakangnya, wajahnya serius sekali, seolah-olah sedang memikirkan nasib bangsa kucing. Aku sering bertanya-tanya, apa gerangan yang ada di kepalanya. Tikus? Ikan? Atau mungkin hanya keinginan untuk tidur sepanjang hari?
Aku mengenal Yupi bukan hanya dari bulunya yang lembut dan matanya yang bulat, tetapi dari caranya membuat rumah terasa lebih hidup. Kadang ia berlari tanpa alasan, kadang mengeong kepada pintu yang tertutup, dan kadang duduk diam menatapku seakan aku ini manusia paling aneh yang pernah ditemuinya. Padahal, kalau kupikir-pikir, mungkin memang begitu.
Aku menyayangi Yupi dengan cara sederhana: memberinya makan, memanggil namanya, dan membiarkannya menjadi dirinya sendiri. Sebab dari kucing kecil itu aku belajar bahwa kebahagiaan tak selalu membutuhkan perkara besar. Kadang, kebahagiaan hanya seekor kucing jingga yang duduk di samping kita, lalu memandang dunia dengan wajah serius, sementara kita diam-diam tersenyum melihat tingkahnya.