Dunia anak adalah samudra warna yang tak pernah surut. Di depan rak toko mainan itu, Iliana berdiri di tepinya. Matanya yang bening menatap tajam pada ribuan gantungan kunci menggemaskan yang bergelantungan, seperti seorang penjelajah yang baru menemukan gugusan pulau tak dikenal. Tubuh mungilnya condong ke depan, tenggelam dalam kekaguman yang sunyi.
Jemarinya terulur perlahan, menyentuh satu demi satu mainan. Bagi orang dewasa, ini hanyalah tumpukan benda mati. Namun bagi Iliana, ia sedang berhadapan dengan pasukan kecil yang setia. Ada dilema berat di sana; memilih satu berarti harus merelakan yang lain, sebuah filosofi hidup yang belum ia kenal namanya.
Aku memilih diam dan mengabadikannya dari kejauhan. Di sorot matanya yang tak berkedip, aku melihat masa depan. Sore itu, Iliana tidak sekadar memilih mainan; ia sedang merajut mimpi di antara warna-warni dunia yang masih begitu polos dan suci.